TEHERAN, sebangsanews.com – Gelombang demonstrasi besar-besaran mengguncang Iran. Sejak akhir Desember 2025, protes yang bermula dari keluhan ekonomi ini telah menyebar ke hampir seluruh provinsi dan kini berubah menjadi gerakan perlawanan terhadap rezim yang berkuasa.
Aksi massa bermula dari penutupan toko-toko di Grand Bazaar, Teheran, sebagai bentuk protes para pedagang atas inflasi yang tak terkendali dan anjloknya nilai tukar mata uang Rial.
Namun, ketidakpuasan ini dengan cepat menjalar ke berbagai lapisan masyarakat. Mahasiswa, buruh, dan warga sipil tumpah ruah ke jalanan di kota-kota utama seperti Teheran, Mashhad, Isfahan, hingga Tabriz. Laporan lapangan menyebutkan aksi protes telah meluas ke 31 provinsi.
Tuntutan Reformasi Total
Eskalasi protes terjadi sangat cepat. Tuntutan yang awalnya hanya seputar “perut” (ekonomi), kini bergeser menjadi isu politik. Di jalanan, terdengar slogan-slogan yang mengkritik keras struktur pemerintahan dan menuntut reformasi kepemimpinan nasional.
Meski tidak ada komando sentral, berbagai elemen masyarakat mulai dari serikat dagang hingga kelompok etnis bersatu menyuarakan kekecewaan mereka. Mereka menilai kebijakan pemerintah gagal total dalam mengelola perekonomian negara.
Rezim Putus Akses Internet
Merespons gelombang protes yang kian tak terbendung, pemerintah Iran mengambil langkah represif. Sejak 8 Januari 2026, akses internet internasional diputus hampir total.
Data dari organisasi pemantau keamanan siber global, NetBlocks, mengonfirmasi terjadinya pemadaman konektivitas (internet blackout) di sebagian besar wilayah Iran. Taktik ini diduga kuat dilakukan untuk mencegah penyebaran informasi, membatasi koordinasi demonstran, serta menutupi dokumentasi kekerasan aparat di lapangan dari mata dunia internasional.
Bentrokan Berdarah
Di tengah gelapnya informasi akibat pemadaman internet, laporan mengenai korban jiwa terus bermunculan. Organisasi hak asasi manusia internasional memperkirakan ratusan orang tewas, termasuk remaja, akibat bentrokan sengit dengan aparat keamanan.
Aparat dilaporkan menggunakan gas air mata hingga peluru tajam untuk membubarkan massa. Rumah sakit di berbagai kota dikabarkan kewalahan menangani lonjakan pasien dengan luka tembak dan cedera fisik parah.
Respons Dunia
Situasi di Iran memancing reaksi keras dunia internasional. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan bahwa Teheran berada dalam “masalah besar” jika terus menggunakan kekerasan terhadap warganya. Trump bahkan mengisyaratkan potensi intervensi jika pelanggaran HAM terus berlanjut.
Sebaliknya, Teheran menuding protes ini ditunggangi oleh kepentingan asing yang ingin mengguncang stabilitas negara mereka.
Kini, Iran berada di titik nadir. Krisis kali ini bukan sekadar protes ekonomi biasa, melainkan ujian terberat bagi legitimasi penguasa di tengah tekanan sanksi internasional dan kemarahan rakyat yang memuncak.(FHM)
