Banjar, (17/11/2025) – Setelah sukses mengadakan “Kelas Kecerdasan Artifisial – AI Goes To School” pada 13 September lalu, MAFINDO Kalsel resmi kembali mengadakan “Kelas Kecerdasan Artifisial – AI Goes To School” batch 2. Berbeda dengan sebelumnya, pada kegiatan kali ini MAFINDO Kalsel dibersamai oleh media Tabirkota, dan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar.
Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Banjarbaru. Diikuti oleh 103 orang guru dari berbagai jenjang di Kalimantan Selatan, diantaranya Kabupaten Banjar, Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Kabupaten Tapin, hingga Hulu Sungai Selatan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Menengah Atas maupun Kejuruan (SMA/SMK).
Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar yang hadir mewakili Kepala Dinas yang berhalangan hadir, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan narasumber yang terlibat dalam kegiatan ini. Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa perkembangan AI memberikan perubahan besar dalam dunia pendidikan, sehingga guru perlu terus belajar dan beradaptasi.
“AI harus menjadi alat bantu, bukan menggantikan peran guru. Teknologi tidak bisa menggantikan nilai moral, empati, dan karakter yang hanya dapat diberikan oleh seorang pendidik,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan ini dapat mendorong guru memanfaatkan teknologi secara bijak, kreatif, dan bertanggung jawab. “Semoga kegiatan ini memberi manfaat nyata bagi peningkatan kompetensi guru dan memperkuat ekosistem pendidikan Kabupaten Banjar agar semakin unggul dan adaptif,” tambahnya.
Melalui pelatihan ini, para guru diajak untuk memahami dasar-dasar teknologi Kecerdasan Artifisial (KA), juga diperkenalkan pada banyak aspek penting dalam penerapannya. Materi yang diberikan berupa etika pemanfaatan KA, keterampilan manajemen prompt, penggunaan KA untuk pembelajaran kreatif dan interaktif, pengelolaan kelas yang efektif, serta peningkatan kinerja dan administrasi sekolah. Dengan cakupan materi tersebut, guru diharapkan mampu melihat KA bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat yang dapat membantu guru dalam proses mengajar.
Menurut Nurhayati, seorang pengawas sekolah di Karang Intan, program ini mengubah cara pandangnya terhadap teknologi. “Program ini telah memperluas perspektif saya terhadap AI. Sebelumnya saya pikir AI hanya alat administrasi atau hiburan, tetapi sekarang saya memahami bahwa AI dapat menjadi alat untuk mendukung guru, pengawas, dan sekolah,” ujarnya. Ia kini berencana untuk memanfaatkan AI untuk menganalisis data rapor pendidikan dan membantu menyusun Rencana Kerja Tahunan sekolah binaannya.
Di sisi lain, Supardi, seorang guru dari SDN Kahelaan 1, mengatakan bahwa program ini adalah pembuka wawasan yang sangat berarti. “Program AI Goes to School sangat membantu saya memahami bagaimana AI bisa menjadi alat yang mendukung guru dalam perencanaan pelajaran dan pembuatan aktivitas kelas,” tuturnya. Ia juga merasa kepercayaan dirinya dalam menggunakan AI meningkat setelah mengikuti kegiatan ini.
Kegiatan berjalan dengan lancar, dilengkapi oleh suasana interaktif dan antusiasme tinggi dari para peserta. Melalui sesi tanya jawab dan diskusi bersama narasumber serta pembagian doorprize bagi peserta yang paling aktif semakin menambah semangat sekaligus kehangatan selama pelatihan berlangsung. (ISL)
