SYDNEY, sebangsanews.com – Serangan teror yang mengguncang kawasan Bondi, Sydney, pada Desember lalu menyisakan dampak lanjutan yang serius. Komunitas Muslim di Australia kini melaporkan peningkatan drastis ancaman Islamofobia, intimidasi, hingga vandalisme yang menambah beban psikologis di tengah trauma nasional.

Laporan dari berbagai media lokal, termasuk ABC Australia, mencatat lonjakan insiden kebencian anti-Muslim mencapai ratusan persen pasca-kejadian. Bentuk teror beragam, mulai dari perusakan masjid hingga pesan-pesan kebencian di media sosial dan surel (email).

Masjid Dijaga Ketat

Dampak paling nyata dirasakan oleh warga Muslim di New South Wales. Atmosfer ketakutan membuat sebagian jemaah memilih untuk tetap berada di dalam masjid pada malam hari demi alasan keamanan. Mereka khawatir akan potensi serangan balasan terhadap tempat ibadah.

Kondisi ini menegaskan bahwa ancaman tersebut bukan sekadar paranoia, melainkan realitas sosial yang mengubah pola hidup komunitas Muslim di sana secara drastis.

Tidak hanya serangan fisik atau verbal secara langsung, teror juga menyasar ruang digital. Komentar bernada pelecehan identitas membanjiri media sosial, dengan target spesifik sering kali diarahkan kepada perempuan berhijab.

Ancaman “Sekte Kematian” di Melbourne

Gelombang kebencian ini ternyata meluas hingga ke Melbourne. Komunitas Muslim setempat melaporkan menerima surel kaleng yang melabeli Islam sebagai “sekte kematian” dan mendesak mereka untuk meninggalkan Australia. Laporan ancaman ini telah diserahkan kepada kepolisian setempat untuk ditindaklanjuti.

Merespons situasi panas ini, para pemimpin politik Australia turun tangan. Premier New South Wales, Chris Minns, mengecam keras tindakan tersebut. Ia menegaskan bahwa aksi diskriminatif sama sekali tidak mencerminkan nilai masyarakat Australia yang menghargai keberagaman.

Senada dengan Minns, Menteri Dalam Negeri Australia, Tony Burke, menyatakan bahwa segala bentuk ujaran kebencian tidak dapat dibenarkan dalam kehidupan berbangsa, terlebih di saat negara sedang berduka.

Insiden ini menjadi ujian berat bagi multikulturalisme di Australia. Betapa cepatnya trauma kolektif akibat aksi teror dapat berbelok arah menjadi kebencian generalisir terhadap kelompok agama tertentu. (FHM)

Share.
Leave A Reply