BAGHDAD, sebangsanews.com – Ketegangan di Timur Tengah kian memanas. Kelompok milisi pro-Iran yang bermarkas di Irak, Kataib Hezbollah, mengeluarkan ultimatum keras pada Minggu (26/1/2026). Mereka menginstruksikan seluruh pasukannya untuk bersiaga penuh dan siap angkat senjata guna membela Republik Islam Iran.
Sekretaris Jenderal Kataib Hezbollah, Abu Hussein al-Hamidawi, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika Teheran menghadapi agresi militer dari pihak asing.
Skenario “Perang Komprehensif”
Dalam pernyataan resminya, al-Hamidawi menyebut Iran sebagai “benteng dan sumber kebanggaan” bagi poros perlawanan di kawasan. Ia menyerukan kepada seluruh pejuangnya untuk memobilisasi diri menghadapi skenario “perang komprehensif” (comprehensive war).
Peringatan ini menyiratkan pesan tegas: setiap serangan terhadap Iran akan dianggap sebagai serangan langsung terhadap jaringan milisi mereka di Irak, yang akan dibalas dengan konsekuensi militer yang besar bagi pihak lawan.
Posisi Strategis Kataib Hezbollah
Ancaman ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Kataib Hezbollah merupakan salah satu faksi paramiliter Syiah paling berpengaruh di Irak. Kelompok ini memiliki hubungan ideologis dan logistik yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran.
Secara struktur, mereka juga merupakan bagian integral dari Popular Mobilization Forces (PMF) atau Hashd al-Shaabi, payung milisi yang diakui secara resmi oleh negara Irak namun sering kali bergerak sesuai agenda Teheran.
Respons Pemerintah Irak
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Irak belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait seruan perang dari dalam negerinya sendiri ini. Situasi ini menempatkan Baghdad dalam posisi sulit di tengah tekanan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Pernyataan “siap perang” ini menambah lapisan ketegangan baru di kawasan, di mana gesekan antara aktor negara dan aktor non-negara (non-state actors) berpotensi memicu konflik terbuka yang lebih luas. (FHM)
